Silahkan kirim artikel Umum dan Muslim kesayangan anda disini. (Artikel yang terpilih akan kami posting berdasarkan kategori yang tersedia)

5 Tanggapan to “Kirim Artikel Umum”

  1. nazrah Says:

    situs ini sangat mulia, dan harapan saya ikhwan dan akhawat dan mudi sudi mengunjungi situs islami berikut: http://www.aziznawadi.co.nr

  2. true moeslim Says:

    PKS MESIR. Oleh : Kupret

    PKS Mesir kembali menjadi sorotan

    Disini saya memposting kembali tulisan yang dikirimkan oleh seorang kawan yang mana sedikit banyak mendukung saya untuk mempertanyakan kembali mengenai doktrinisasi PKS kepada kader-kadernya (Walau mengambil contoh wilayah Mesir).

    PKS telah menjadi sebuah fenomena tersendiri dalam perkembangan politik Indonesia kontemporer, walaupun eksistensinya telah menyebabkan tarik menarik antara yang mendukung dan yang menentang, PKS sudah membuktikan untuk menjadi yang bersih dan jujur memang perlu dekat dengan orisinalitas ajaran Islam. Sebab hingga saat ini belum ada satupun partai agama di tanah air ini yang begitu fenomenal seperti PKS ini.

    Namun, karena usianya masih terbilang seumur jagung, PKS dituntut untuk mendewasakan diri dengan dinamika perpolitikan yang kompleks dan berputar begitu cepat. Di tengah-tengah masyarakat heterogen seperti Indonesia PKS memang kelihatannya sudah berusaha mengadaptasi diri ke lingkungan luar tanpa harus banyak merubah jati dirinya. Selamat, apresiasi masyarakat terhadap PKS sudah terbilang cukup positif.

    Tetapi, sebagaimana manusia, PKS tidak luput dari berbagai kekurangan. Satu kekurangan yang signifikan dan mungkin akan menjadi salah satu sorotan utama publik dimasa mendatang, bahkan bisa berbalik sebagai ’senjata makan tuan’ bagi PKS itu sendiri, adalah ‘behavior’ dari kiprah kader-kader generasi penerus PKS yang kini sedang menjalani study di negeri Mesir.

    Ada apa dengan komunitas PKS di Mesir? Sebelumnya perlu diketahui bahwa Mesir adalah salah satu tujuan utama bagi pelajar/mahasiswa Indonesia yang ingin meningkatkan keilmuan Islamnya, di negeri itu terdapat sebuah lembaga pendidikan Islam bernama Al Azhar yang merupakan lembaga tertua dan terbesar pengaruhnya di kalangan umat Islam dunia, puluhan bahkan ratusan ribu alumninya tersebar ke seluruh dunia untuk berdakwah dan menegakkan agama ini. Jumlah komunitas Indonesia di Mesir (mahasiswa/i, diplomat, local staff, ekspatriat hingga TKI) saat ini hampir berjumlah 4000 orang. Walaupun suatu jumlah yang tidak begitu signifikan dibandingkan dengan komunitas ditanah air, namun komunitas ini sebagian besarnya adalah kader-kader umat yang sedang digodok keislamannya di salah satu Universitas Islam yang terbaik dimuka bumi ini. Tambahan sedikit, mungkin banyak yang bertanya-tanya, Al-Azhar dengan segala kekurangannya yang selama ini diketahui oleh beberapa kalangan, mengapa Al Azhar masih ‘laku keras’? Mungkin jawabannya ada dua:

    1. Al-Azhar sangat menjaga orisinalitas literatur-literatur keIslaman.

    2. Al-Azhar menekankan ‘moderasi/wasathi’ dan ‘kontemporerasi/’asri’ dalam pergerakannya.

    Jalan ‘keep on track’ yang diambil Al Azhar inilah yang membuatnya menjadi salah satu pusat kiblat keilmuan Islam terbesar.

    Kembali ke masalah kiprah kader-kader PKS di Mesir, dari 2 PEMILU pasca reformasi di Mesir, sejak masih bernama PK, PKS selalu menjadi pemenang disana. Khusus untuk PEMILU 2004, kemenangan PKS di Mesir begitu fenomenal (lebih dari 50 persen), hingga pendukung-pendukung dari partai lainpun turut ber’standing ovation’ terhadap PKS Kairo, kok di tengah-tengah krisis identitas partai Islam, PKS Kairo malahan panen suara? Pertanyaan inilah yang membuat saya bangga sebagai kader umat (walaupun bukan anggota PKS) tapi juga menggelitik hati saya selama ini.

    Semua sepakat, salah satu unsur yang meningkatkan perolehan suara nasional PKS secara signifikan dalam PEMILU 2004 kemarin adalah berhasilnya PKS tampil sebagai partai yang jujur, bersih dan banyak membantu masyarakat secara karya nyata, bukan sekedar karena PKS ini berdasarkan Islam atau berdasarkan simbol-simbol lainnya, apalagi dengan mengandalkan ‘kultus individu’, saya rasa pola gerakan partai ini modern dan sistematis. PKS dalam kampanye-kampanyenya secara meyakinkan dan persuasif dapat menggaet seluruh komponen umat, baik dari preman, seniman/artis, pengusaha hingga pejabat. Semula berbagai kalangan tidak menyangka, ternyata kalangan-kalangan yang ter’marginal’kan dalam lingkungan ‘Islam garis keras’ seperti preman-preman dan seniman itu secara antusias bersimpati dan mensupport penuh PKS. Dan pada saat PKS sudah berada di’atas’ (jabatan) tidak pernah lupa menampilkan sikap membaurnya, contoh kecil: Ketua MPR DR. Hidayat Nurwahid ‘tega’ melepas pecinya di berbagai forum publik. Setidaknya gambaran kecil tadi bisa melihat ‘big picture’ dari good will PKS untuk membaur.

    Namun apa yang saya saksikan terhadap stream-line kader-kader PKS di Kairo, Mesir, adalah kontradiksi dengan apa yang ditampilkan induknya ditanah air. Bagaimana? Selama bertahun-tahun komunitas Indonesia di Mesir mengenal sebuah kelompok ‘perkumpulan mahasiswa’ (saya tidak akan menamakannya dengan ini atau itu) di mana ciri khas kelompok ini identik dengan gerakan PKS yang ada di Mesir, sebab rata-rata eksponen PKS berasal dari ‘kelompok’ tersebut, ciri-cirinya adalah:

    1. Ekslusifitas

    2. Pria berjenggot, wanita bercadar, yang pria berseragam baju koko, dan yang wanita berseragam pakaian berwarna polos dan berjilbab panjang.

    3. Menjauhkan bahkan (mungkin) mengharamkan alat-alat musik kecuali gendang.

    4. Dalam acara perkawinan, diharamkan kepada tamu pria untuk melihat pengantin wanita. Mereka juga cukup berperan aktif dalam hal jodoh-menjodohkan sesama mahasiswa/i.

    Pada dasarnya di Mesir setiap individu dari komunitas Indonesia di sana memiliki hak untuk menjalani keyakinannya masing-masing, termasuk di antaranya ciri-ciri yang saya paparkan diatas, umumnya kalangan komunitas Indonesia disini tidak mempermasalahkan apa-apa dengan ‘ciri-ciri’ khas itu, kita semua ingin hidup dengan asas saling hormat-menghormati dan menginginkan ketenangan bukan keresahan. Akan tetapi, bola yang kita lempar kepada mereka ternyata tidak dimainkan dengan cantik. Untuk lebih mudah dan jelas saya akan paparkan fenomena-fenomena umum yang bernuansa agak seperti ‘clash of civilization’ antara komunitas Indonesia di Mesir (99,9 persen muslim sunni) dengan ‘kelompok’ tersebut.

    1. Dalam berinteraksi, pernah ada kasus, dimana salah seorang senior yang sudah tinggal lama di Mesir, cukup berumur (di atas 50 tahun lebih) dan sudah bertitel ‘MA/Master of arts’ menghadari acara solat ghaib kenalan baiknya, kebetulan acara itu dipenuhi oleh orang-orang ‘kelompok’ itu. Setelah usai acara, tiba-tiba orangtua itu didatangi oleh seorang yang masih muda dari ‘kelompok’ itu, dengan sedikit/minim basa basi anak muda itu menasehati sang orangtua agar lebih memperbaiki cara berpakaiannya, padahal pakaian yang dipakai oleh orang tua tersebut cukup sopan dan menutup aurat (kemeja dan celana kasual). Untung saja orangtua tersebut cukup bijak, dia saat itu tidak bereaksi kecuali diam. Namun sebagaimana manusia biasa orangtua itu merasa sakit hati diperlakukan secara tidak layak di depan umum dan ‘curhat’ pada kami. Di dalam forum yang lain banyak aduan-aduan kasus yang serupa. Dalam beberapa kejadian, jika kita ingin mengunjungi rumah-rumah senior, biasanya ada juniornya yang berperan seperti ’sekretaris’ menanyakan keperluan apa kita datang kemari. Seorang mahasiswi yang masuk dalam ‘kelompok’ tersebut akan berkurang kebebasannya dalam berinteraksi terhadap komunitas umum. Sampai masalah kecil seperti celana jeans dijadikan masalah besar, selama itu menutup aurat itu sah-sah aja, Rasulullah saja mengadopsi mata uang dinar dari negara ‘kafir’ seperti Romawi untuk muamalah keseharian umat Islam.

    2. Dalam berorganisasi, kini sebagian mahasiswa/i khususnya para aktifis, mengeluhkan kinerja organisasi induk mahasiswa Mesir (PPMI = Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia). Untuk menjadi seorang ketua yang memiliki hak prerogatif dalam membentuk ‘kabinet’, dia harus terlebih dahulu mengikuti pemilihan umum PPMI secara demokratis. Kebetulan yang menjadi ketua sekarang adalah sosok yang mendapatkan support penuh dari ‘kelompok’ itu. Secara otomatis sebagian besar komponen ‘kabinet’ sekarang dari ‘kelompok’ itu, kesan umum masyarakat Indonesia di Mesir adalah PPMI sekarang cenderung mengakomodir aspirasi dan interest orang-orang ‘kelompok’ itu, adapun selain ‘kelompok’ itu adalah ‘yang termarginalkan’. Kalau mengingat pada masa-masa pemilihan tahun kemarin yang mengangkat ‘kelompok’ itu, di milist-milist banyak istilah-istilah yang cukup arogan dan provokatif dalam rangka mensukseskan kandidat ‘kelompok’ mereka. Dari perkataan-perkataan ‘kelompok’ itu seakan-akan itu berkata “yang insaf pilihlah orang ini, yang tidak go to hell”, ini menciptakan banyak resistensi. Padahal visi utama berdirinya PPMI adalah menunjang dan mendukung maslahat seluruh mahasiswa/i yang sedang belajar di Mesir dalam segala bidang. Siapapun dan dari kelompok apapun yang terpilih jadi pemimpin PPMI harus menjunjung tinggi seluruh komponen masyarakat disini. Belum lagi kalau saya ingat, pernah dalam sebuah forum mahasiswa/i di sebuah auditorium Al Azhar, salah seorang senior ‘kelompok’ mereka merasa kalah berargumentasi dalam suatu masalah kemahasiswaan, lalu dia mengancam “awas jangan salahkan saya jika ada sekelompok anak-anak akan mengeroyok kalian (bentrok fisik)”. Bahkan dalam skala yang lebih kecil, seperti organisasi-organisasi paguyuban daerah yang dikenal oleh komunitas kami sebagai ‘kekeluargaan’ setiap orang dari ‘kelompok’ mereka jika menjadi pemimpin di kekeluargaan-kekeluargaan itu akan me’warna’kan organisasinya seperti ‘warna’ ‘kelompok’ itu. Tidak jarang dalam prakteknya mereka melanggar kode etik/norma-norma yang sudah menjadi konsensus kekeluargaan-kekeluargaan tersebut.

    3. Anda kenal Erwin Gutawwa? Seorang komposer terkemuka dinegeri kita. Pernah obsesi beliau untuk mengenalkan (dan membanggakan) negerinya yang tercinta Indonesia terbunuh oleh protes dari kalangan ‘kelompok’ itu. Singkat cerita, dalam rangka mengenalkan kemajuan dunia orkestra Indonesia, duta besar saat itu (Prof. Bachtiar Aly, guru besar ilmu komunikasi UI) berniat mengundang Erwin Gutawwa untuk menggelar konser di piramida Giza ,Mesir. Ternyata rencana itu tercium oleh ‘kelompok’ itu dan gampang ditebak, mereka menentang acara tersebut dengan dasar pertimbangan: takut orang-orang Mesir menghentikan pemberian bantuan zakat terhadap mahasiswa. Padahal orang-orang Mesir dikenal oleh dunia Islam sebagai orang yang moderat dan memang mengapresiasi karya-karya seni termasuk musik, anda kenal Ummi Kulstum? Abdel Halim hafidz? Nagiub Mahfudz? Mereka itu orang Mesir, bahkan orang-orang Ikhwanul Muslimin (Pan Islamisme Mesir) banyak berasal dari kalangan seniman termasuk diantaranya musikus-musikus. Mungkin karena duta besar saat itu tidak mau ambil pusing, akhirnya acara tersebut digagalkan. Seorang ulama terkemuka dunia Syeikh DR. Yusuf Qardawi dalam acara TV Al Jazeera menentang habis-habisan akan sebuah anggapan sebagian umat Islam bahwa bermusik itu haram selain gendang.

    4. Dalam masalah distribusi bantuan-bantuan orang Mesir untuk mahasiswa/i Indonesia, tercipta sebuah kesan bantuan-bantuan itu disyaratkan agar calon-calon penerimanya harus komit dengan prinsip-prinsip ‘kelompok’ tersebut, karena memang ‘kelompok’ itu punya link banyak dengan pihak dermawan Mesir. Padahal, bantuan itu ditujukan oleh siapa saja yang memerlukan dari mahasiswa/i, Islam menghargai perbedaan pendapat (walau sebenarnya secara aqidah kita semua di Mesir satu warna, yaitu warna Al Azhar original). Seakan-akan terjadi dikotomi, yaitu mahasiswa yang ‘insaf’ dan yang ‘tidak insaf’, kita semua mahasiswa belajar agama dan mencari identitas diri, malah yang terjadi adalah doktrin sepihak secara tidak fair.

    5. Salah seorang senior di Mesir pernah bersaksi, di mana laki-laki dan perempuan dari ‘kelompok’ mereka berbaur dalam satu rumah tanpa cadar dan sekat (akan tetapi tetap memakai jilbab), di mana mereka saat itu sedang ngobrol bareng dengan santai. Padahal ‘kelompok’ itu ciri-ciri utama rumah mereka adalah wujud tirai untuk memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Bahkan dalam acara-acara pernikahan dan resepsi perkawinan, tamu dari kalangan laki-laki tidak boleh sama sekali melihat pengantin perempuan. Ini adalah sikap yang hipokrit dan diskriminatif.

    Saya sengaja tidak menuliskan seluruh fenomena yang terjadi, saya rasa kelima gambaran ini cukup memberikan sebuah image akan kiprah para (sebagian) kader-kader PKS Mesir yang ekslusif dan tidak menunjukkan goodwill untuk membaur, malah seakan-akan mereka menunjukkan arogansinya sebagai kelompok superior/mayoritas di kalangan komunitas Indonesia di Mesir. Seakan-akan orang-orang yang menuntut ‘ilmu Islam’ di lembaga semacam Al Azhar yang tidak mengikuti millah mereka adalah bukan dari mereka, padahal Islam mewajibkan kita untuk berdakwah dengan hikmah dan mau’izah hasanah yang intinya berdakwah dengan simpatik, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh saudara-saudara kita di PKS Indonesia.

    1. Mengapa Setiawan Djodi yang gape memainkan guitar itu bisa simpatik dan support penuh ke PKS?

    2. Apakah PKS masa depan akan dikuasai oleh ‘kelompok’ dominan PKS Mesir seperti itu?

    3. Bagaimana jika suatu saat PKS malah mendapatkan resistensi dari masyarakat?

    4. Dimana sikap wasathi ‘kelompok’ dominan PKS Mesir itu? Toleransi? Kelembutan Islam?

    Ini adalah muhasabah terbesar bagi PKS, bahkan kepada Yth. DR. Hidayat Nur Wahid pun akan mengkerutkan dahinya jika membaca tulisan ini. Saya tetap berada dalam posisi mendukung kebesaran PKS untuk kebesaran Islam. Namun ingat, kebesaran itu tidak dapat diperoleh dengan Ekslusifitas dan Perasaan benar sendiri.

    Kepada sebagian komunitas PKS Mesir itu harus belajar membaur dengan berlatih menerima perbedaan dan respek terhadap pendapat dan keyakinan orang lain, selama tidak melanggar aqidah, sebab kita sama-sama satu almamater yaitu Al-Azhar As-Syarif. Disaat umat Islam sedang lemah, hal yang paling efektif adalah memprioritaskan persatuan, membangkitkan semangat dan kepercayaan diri, bukan justru disibukkan oleh masalah-masalah yang tidak patut dipermasalahkan.

    Tulisan ini hanya sebuah kritik terhadap sebuah kemapanan yang salah, saya tidak mengharapkan reaksi, namun aksi nyata yang membuktikan bahwa sebenarnya PKS itu milik umat Islam lintas golongan. Dan na’udzubillah jika didominasi oleh kelompok-kelompok tertentu saja.

    PKS Mesir : Sebuah hegemoni berlebihan

    Sekedarnya saya ingin memberikan realita dari apa yang terjadi dalam tubuh PKS di Mesir, mungkin lebih tepat dikatakan sebuah keprihatinan terhadap dominasi kekuasaan yang amat berlebihan, sehingga akibatnya terjadi pencampuradukan antara wilayah publik dan wilayah privasi bagi komunitas mahasiswa yang berdomisili di Mesir.

    Akhir-akhir ini semarak gaung PKS dalam mengkampanyekan slogan partai dakwahnya di tanah seribu menara menjadi sangat merisaukan, dikarenakan apa yang digagas dan dibidangi oleh para kader PKS Mesir telah berusaha memasuki daerah preogratif setiap personal mahasiswa. Misal, ketika para antek (Saya membahasakan kader sama dengan antek) PKS pada bulan April 2006 silam mendirikan sebuah institusi yang bernama, “Tim Pemerhati Interaksi Mahasiswa (TPIM)” yang lebih saya dengankan dengan polisi syari’ah mahasiswa, terlihat jelas apa yang menjadi misi utama mereka adalah mengatur soal hubungan antara mahasiswa putra-putri, sekaligus menegaskan di muka umum untuk menerapkan sistem model interaksi yang ideal di mata mereka bagi lingkungan para Mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir).

    Disini terlihat hegemoni kekuasaan yang sangat tidak perlu adanya pemaksaan kaum imperialis kepada orang lain yang bersebelahan pendapat dengan mereka. Apalagi institusi ini didukung sepenuhnya oleh partai yang mengatasnamakan dakwah dan memiliki anggota paling banyak di Mesir. Kejadian ini seolah mengingatkan saya ketika di zaman orde baru dimana bangsa Indonesia digiring kepada satu ideologi dan asas tunggal yang berkedok nasionalisme serta dibayangi oleh aktifitas spionase, mata-mata, informan, premanisme, penculik gelap, dan sebagainya. Begitu juga dengan lembaga ‘anak bawang’ PKS ini (TPIM), yang mulai sedikit demi sedikit menyebarkan informan untuk menanyai mahasiswa yang terlihat sedang berjalan dengan mahasiswi. Ditanyai status pernikahannya, atau apalah.

    Kadang saya mempertanyakan perlakuan mereka para orang iseng ini: apa hak mereka bertanya seperti itu? toh kalaupun mereka tahu status orang-orang yang ditanyai sudah menikah atau belum, maka tidak patut mereka langsung menyeret ke lembaga hukum atau pihak berwenang setempat, dalam hal ini Kedutaan Besar Republik Indonesia, sebab jika memang sampai mereka melakukan itu, tak pelak sebuah chaos akan muncul di tanah mahasiswa Indonesia Mesir.

    Teman saya yang biasa memberikan bimbingan belajar bagi para pelajar baru yang belum terbiasa membaca literatur-literatur berbahasa arab, makin heran dengan sikap antek PKS membentuk tim tersebut. Karena bisa jadi nanti kalau otoritas tim ini makin membesar, maka akan ada sebutan bimbingan illegal dan bimbingan legal, lantas akan muncul birokrasi baru yang mengharuskan bagi siapa saja yang hendak membimbing pelajaran harus melapor pada lembaga itu tadi.

    Sedangkan di lain sisi, organisasi pusat Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia (PPMI) seperti tidak mau mendengar protes dan kritikan dari mahasiswa lain yang berbeda pendapat mengenai TPIM tersebut. Ibarat masuk lewat telinga kanan, dan keluar jadi congek dari telinga kiri. Hal ini mungkin dapat saya maklumkan, karena dalam tubuh struktural PPMI sendiri-pun, dari mulai Majlis Permusyawaratan Anggotanya hingga pengurus hariannya sudah tersusupi, bahkan dikuasai oleh para antek PKS. Lalu sampai dimana arti kebebasan berpikir dan sikap bagi para mahasiswa Mesir? Kalau saudari mahasiswi teman saya bilang: “Memangnya kita anak SMA yang sedang diajari tentang pacaran? Kita sudah melewati masa pubertas dan interaksi antara lawan jenis adalah persoalan biasa dalam hidup kita”.

    Sikap antek PKS di tubuh PPMI Mesir semakin jelas antipatinya terhadap kebebasan aktifitas dan berpikir ketika melaksanakan aksi diam terhadap program Kedutaan Besar Republik Indonesia yang hendak mengadakan lomba festival band untuk memeriahkan acara hari kemerdekaan 17 agustus 2006 nanti. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa doktrin mereka terhadap musik secara garis besar adalah haram. Walaupun ada persepsi lain yang mengatakan soal jenis musik yang diperbolehkan adalah memakai gendang dan suara vokal manusia saja, akan tetapi kejumudan (kekakuan) para aktifis PKS yang sekarang telah berkuasa ini sangat mengundang kontroversi dalam pergaulan mahasiswa Indonesia Mesir itu sendiri.

    Kemudian ketika saya sering mendengarkan simbolisasi Arabian yang digunakan para kader PKS dalam berbicara dan bergaul dengan lingkungan sekitarnya, adalah menurut saya lebih menunjukkan ekslusifitas ketimbang maksud dan tujuan mereka yang menyuarakan suatu pergualan bernuansa Islami, padahal pengertian Islami sendiri bagi saya adalah bukan kita harus mengganti setiap kata bahasa baku kita sebagai bangsa Indonesia menjadi bahasa Arab. Kalau kita memang mempunyai bahasa sendiri kenapa tidak gunakan bahasa saya, aku, nyong, beta, abdi untuk berbicara, dari pada mengubahnya menjadi ana, toh kita bukan berbincang-bincang dengan orang asing.

    Fenomena semacam ini tak lepas dalam kehidupan budaya sehari-hari para kader PKS di tanah kinanah. Sehingga dengan efek samping sebuah hierarki basa-basi dapat menyelimuti seluruh tatanan pergaulan mahasiswa Mesir menjadi terdoktrinisasi. Dogma-dogma semacam itu juga dapat dibuktikan pada liqa’ dan halaqah yang sering diadakan oleh PKS. Mungkin saya setuju dengan tujuan praktis diadakan perkumpulan semacam itu adalah agar sesama umat muslim dapat saling menguatkan dan bermuhasabah serta saling berbagi pengetahuan mengenai Islam, agama yang benar. Namun ketika saya dihadapkan kepada adanya tingkatan pangkat dalam perkumpulan semisal; murabbi, mursyid, musyrif dan sebagainya, maka saya lebih menolak untuk masuk ke dalamnya. Karena bagi saya agama itu bukan doktrin, agama itu adalah sebuah kesadaran batin.

    Tingkatan pangkat ini mengingatkan saya akan istilah jabatan dalam kemiliteran. Sudah pasti dimana ketika satu orang saja mempunyai jabatan tertinggi, maka ia dapat menguasai yang lainnya, bahkan memerintahkan, atau memarahi orang lain yang berpangkat rendah di bawahnya. Fenomena dogma dan militerisme dalam tubuh kader PKS dapat terlihat pada permasalahan seperti pernikahan. Para kaderawati PKS atau lebih dikenal di Indonesia dengan mujahidah, didoktrin dalam perkumpulan yang mereka hadiri untuk menjadi seorang wanita yang harus patuh dan mengikuti apa kata suami, kalau tidak taat, jelas hukumannya neraka. Premis akhir berupa ‘masuk neraka’ sebenarnya adalah sebuah hak absolut yang dimiliki Allah swt. tetapi ketika memasuki kancah pergaulan dalam tubuh PKS hal tersebut menjadi keputusan biasa untuk menjustifikasi siapa saja yang bertentangan dengan mereka. Sewaktu saya memperlihatkan sebuah novel karangan Djenar Maesa Ayu yang mendapatkan penghargaan Khatulistiwa dalam bidang sastra kepada seorang teman kader PKS, maka ia langsung mengoceh tanpa membaca terlebih dahulu buku tersebut dengan kata-kata: “Buku setan”. Sebagai orang yang sangat menaruh perhatian khusus dalam sastra, saya menjadi takjub, sedemikian kuatkah penanaman doktrin mereka dalam dirinya, yang menurut saya lebih mudah disebut sikap sradak-sruduk.

    Ajaran ‘kalau tidak patuh pada suami akan masuk neraka’ di atas seakan menjadi semacam cengkraman menakutkan bagi para mahasiswi Mesir yang mempunyai pemikiran bahwa sebuah pernikahan harus dijalani bersama-sama dalam suka dan duka, tanpa harus mengedepankan ego dan mau mengalah untuk menjalin sebuah keharmonisan berumah tangga. Maka dari itu tak jarang keluhan mereka secara samar muncul di tengah-tengah diskusi kusir mengenai pernikahan.

    Siasat antek PKS Mesir untuk menguasai lini pernikahan juga terwujud dalam dukungan mereka yang menukangi sebuah lembaga fasilitator yang telah berdiri beberapa tahun sebelum TPIM, dengan nama Ruhama’. Biro jodoh bernuansa agamis tersebut mulai sering digunakan oleh banyak murabbi PKS untuk menawarkan para anggota wanitanya demi meraih sebuah pernikahan, apalagi yang paling miris saya dapatkan, adanya statement bahwa dengan cara pernikahan melalui model Ruhama’ tersebut adalah pernikahan yang mawaddah wa rahmah dan telah mengikuti sunnah Rasul. Padahal jika ditilik lebih dalam, nampak adanya kepentingan dari para atasan untuk memasang-masangkan atau menjodoh-jodohkan antara si A dan si B.

    Sebut saja misal si A adalah seorang wanita, ketika ia mengajukan diri kepada murabbinya tentang pernikahan, maka si murabbi tadi akan meminta lembaga Ruhama’ untuk mencarikan pasangan yang sesuai, ironisnya dari fasilitator itu sendiri kadang muncul ungkapan telah mahjuzah, atau telah dipesan. Padahal kalau memang Ruhama’ adalah sebuah lembaga yang adil dan fair seharusnya mengerti jika yang namanya proses ta’aruf adalah bukan sudah pasti akan menikahi si wanitanya. Dalam proses ta’aruf ada yang dinamakan atsar, atau menolak untuk menikah, terserah dari pihak wanita atau prianya. Maka dari itu tidak sepantasnya ada kata telah dipesan tadi. Kalau memang bertujuan menjunjung tinggi keadilan dan kejujuran, seharusnya ketika si wanita tadi telah siap untuk menikah, dan ternyata ada beberapa pria yang ingin berta’aruf dengannya, maka beritahu saja secara terus terang, dan biarkan si wanita berkesempatan untuk berta’aruf dan menentukan di antara pria-pria tadi salah satu siapa yang ia pilih.

    Praktek ketidakjelasan non-sportif dalam tubuh Ruhama’ ini adalah adanya ikut andil dari orang yang berpangkat murabbi. Sengaja ia membisikkan kepada Ruhama’ untuk berkata telah dipesan, karena murabbi itu telah menjodohkan wanita anak bimbingannya dengan pria lain yang menurutnya sesuai dan cocok. Ketika menemukan peristiwa ini saya sempat berkomentar bahwa hak-hak murabbi tadi telah jauh melewati batas orang tua wanita itu sendiri. Namun tidak dapat dipungkiri jika hal ini memang ada dan terjadi dalam dunia mahasiswa Indonesia Mesir.

    Usaha PKS Mesir untuk mencampuradukkan wilayah publik dan privasi makin gencar, menguasai lini setiap pergaulan mungkin menjadi tujuan utama mereka. Yang jelas ketika sebuah ideologi ditungkangi oleh berbagai politisasi kepentingan, maka tak pelak lagi saya katakan dalam puisi saya: Takut Bukan Sama Tai Kucing.

    Takut bukan Sama Tai Kucing

    Kita tidak mungkin bisa hidup bebas kalau bukan karena melawan.

    Kredo kritis kita nyatanya masih terbelenggu dalam aral.

    Ketakutan yang hanya bisa menyeru tabu di mulut.

    Bersembunyi di keliaran hati, di sela keberanian tolol yang basa-basi.

    Di saat para manusia waras dan mengaku bertuhan berhasil membalas dendam kusumat atas sejarah,

    Maka ideologi akan menjadi kambing hitam untuk sebuah penyembelihan besar-besaran.

    Sumber : http://kupretist.multiply.com/


  3. Mengolok-olok orang-orang yang berpegang teguh dengan perintah Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya disebabkan karena mereka itu berpegang teguh (konsisten) dengan perintah itu, hukumnya haram, dan berbahaya sekali terhadap dirinya. Karena dikhawatirkan kebenciannya terhadap mereka itu disebabkan kebenciannya terhadap kondisi mereka yang berpegang teguh dengan ajaran agama Alloh Subhanahu wa Ta’ala, di saat itu, pengolok-olokannya terhadap mereka menjadi pengolok-olokan terhadap jalan yang mereka tempuh (ajaran yang mereka pegang).More…

    Mereka menyerupai orang yang telah dikatakan Alloh Subhanahu wa Ta’ala tentang mereka, yang artinya: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman”. (QS: At-Taubah: 65-66).

    Sesungguhnya ayat ini turun kepada satu kaum dari orang-orang munafik yang mereka berkata: “Kami tidak melihat mereka ini seperti qari (pembaca-pembaca) kami -yang mereka maksudkan adalah Rasululloh shallAllohu `alaihi wa sallam dan para sahabatnya- yang lebih suka makan, yang lebih pendusta lidahnya, dan yang lebih penakut dihadapan musuh. Lalu Alloh Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat ini terhadap diri mereka. Berhati-hatilah orang yang mengolok-olok penegak kebenaran, dikarenakan mereka itu dari penegak agama. Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lewat di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”. Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS: Al-Muthaffifiin : 29-36).

    (Sumber Rujukan: Asilah Muhimmah, Fatawa Syeikh Ibnu Utsaimin, http://www.mediamuslim.info)

  4. zainulmuttaqin Says:

    BERFOTO ITU TIDAK HARAM

    Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah fakta yang pernah saya alami, semoga ada manfaatnya, amin. Pada ahir-ahir bulan Zul-Hijjah Tahun 1426H kemarin, saya sekeluarga berfoto sebagai kenang-kenangan di depan Masjid Nabawi Madinah. Tak lama kemudian datanglah seorang petugas resmi dari kaum Wahabi untuk mengusir dan melarang kami berfoto dengan alasan Bid’ah dan pelakunya akan masuk api neraka.

    Ketika itu ayah saya, yaitu Ustaz Suarnawadi KH. Husnuddu’at berkata kepada petugas itu, “anda harus banyak membaca sebelum sembarangan menuduh bid’ah”. Petugas itu dengan nada kasar berkata, “Saya ini mahasiswa Jami’ah Madinah”

    selengkapnya baca di http://solahnawadi.blogspot.com

  5. mala Says:

    Salam ukhuwah. Subhanallah artikelnya…
    Yah smoga sebagai umat Islam kita bisa tetap melakukan banyak hal untuk perbaikan dan memberikan manfaat utk dien ini.
    jika butuh informasi mengenai aqiqah, bisa menghubungi saya via YM mala15_fathiya@yahoo.com. Syukron Jazakumullah

Tinggalkan Balasan