Silahkan kirim artikel HT kesayangan anda disini. (Artikel yang terpilih akan kami posting berdasarkan kategori yang tersedia)
Serambi Utama
Links Islam
Kategori
-
Artikel Teratas
Arsip Artikel
- Februari 2007 (70)
- November 2006 (5)
-
Spam Blocked
-
Komentar Terakhir
Rusmi di Berkhidmat Pada Suami vhie di LIHATLAH, SIAPA TEMANMU… vhie di YA UKHTI…, JAUHILAH TABAR… via mustikowati di Berkhidmat Pada Suami ngruwil di LIHATLAH, SIAPA TEMANMU… -
Statistik Pengunjung
- 46,536 HITS
Blog pada WordPress.com. — Theme: Connections by www.vanillamist.com
April 1, 2007 at 10:05 am
HOROR. Oleh : Syekh Soedarji
” ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء ”
“Asihi yang di bumi, maka yang di langit akan mengasihimu”
Titah Bapak Toleransi, Saiduna Muhammad saw.
Ada tokoh yang kemudian bisa benar-benar terenyuh, mengaduh pada Tuhan tentang nasib si Baghlah, hanya karena seekor anak kuda betina kecil itu terkilir, terperosok ke dalam sebuah parit. Padahal semula, dahulu, ia seorang bapak yang keras hati, mungkin bengis dan susah untuk menangis. Coba bayangkan, demi tradisi kaumnya ia rela ikut menggali sebuah lubang, lalu ke dalam ceruk itu ia lempar hidup-hidup, ia kubur sesuatu yang dianggap sebagai simbol nasib sial; putri gadisnya sendiri. Absurd! Begitulah saat ia menjalani masa-masa kehidupan jahiliyahnya yang dahsyat, sebelum akhirnya ia berubah menjadi orang alim yang tidak biasa. Gagah berani, cerdas, arif , bijaksana dan toleran; Saidina Umar bin al-Khattab radliallahu anhu.
Keimanan memang selalu memiliki ruang putar yang paling sensitif dan privatif. Selamanya tidak bisa dibuka dengan asal congkel, atau gampang diseret layaknya kambing congek. Keimanan tersimpan hidup dalam hati, untuk menyapanya butuh kesabaran dan rahmat dari yang ahli. Bagi sesiapa yang cuma merasa mampu, dengan malas dan terburu-buru, ia biasanya hanya gemar untuk kalang kabut; memilih mengenyahkan saja tempat keimanan itu. Lalu ada leher teriris, ledakan dan tubuh yang gosong. ” Oh Tuhan.. si bejat, si kafir, si musyrik itu telah mati!”, berujar dengan mantap.
Padahal. Andai Islam dan Rasulnya harus ada di bumi hanya untuk membasmi orang-orang kafir, barangkali Saidina Umar bin al-Khattab sang pembunuh itu tidak pernah bermimpi untuk menjadi al-Faruq, yang mampu menjadi prantara kewibawaan dan kemuliaan Islam. Jika Islam cuma begitu, Allah tidak perlu mengilhamkan kalam-Nya yang indah penuh i’jaz, dunia tidak perlu Rasul sebagai rahmat, tidak perlu orang-orang mukmin dan para auliya’ yang memiliki ketajaman mata batin (bashirah). Akan tetapi, Islam barangkali cukup menurunkan buku panduan untuk membentuk raga umat yang sehat dan kuat agar mereka bisa berenang, memanah dengan tepat, pandai mengatur stretegi, kuat memanggul artileri berat, mampu merakit dan meledakkan bom!
Tenang, itu semua hanya sebuah pengandaian. Karena kita semua yakin, Rahmat itu Rasulullah, “Dan tidak aku utus engkau, kecuali sebagai rahmat untuk seluruh alam” demikian bunyi rekomendasi Allah untuk kanjeng Rasul. Rahmat ijad, adalah rahmat yang ada pada Rasulullah itu. Sedang bumi, sepanjang sejarah juga tidak akan pernah sepi dari rahmat imdad (madad dari Rasul), yaitu rahmat milik para khulafa’ rasyidin qabliyin (segenap nabi yang hidup sebelum Rasul) dan ba’diyin (para waliyullah pewaris pasca Rasul). Sehingga menjadi makin yakin, misi suci agama Islam adalah guna “membereskan” ke-kafir-an yang bercokol pada individu setiap manusia, bukan membunuh tubuh si kafir. Merangkul ke jalan Allah dengan menyuguhkan pola interaksi yang terbaik “Wajadilhum billati hiya ahsan”, secara santun dan penuh kasih sayang. Tanpa intimidasi dan paksaan.
Tasamuh, toleransi, atau tepo sliro. Sebagai wacana ia mampu dikemas secara apik dimanapun dan oleh siapapun. Namun sebagai nilai, toleransi akan tidak mudah seperti apa yang dicita-citakan. Nilai tasamuh kiranya benar-benar hidup dalam Islam. Sebab, Islam sendiri dibangun dengan lima pondasi yang demikian toleran; seperti mengucap dua kalimat syahadat, mengerjakan solat, berpuasa, menunaikan zakat dan pergi haji ke baitullah. Disitu terdapat intensitas kesulitan yang berjenjang, dari yang termudah sampai kewajiban yang dirasa lebih payah. Dan rukun yang paling berharga justru kita temukan dalam ritual asasi yang paling mudah; mengucapkan dua kalimat syahadat. Bisa kita bayangkan, kalau syarat awal masuk Islam harus memakai upacara semacam solat ataupun ibadah wajib lain yang lebih kompleks, tentu makin merepotkan. Selanjutnya, setiap kewajibanpun selalu mensyaratkan dua hal; pengetahuan (al-‘ilmu) dan kemampuan (al-Istitha’ah). Gugur salah satu saja, gugurlah kewajiban.
Dan Rasulullah, dengan apik berhasil mengajar dan meneladankan sikap ramah. Suatu saat, ada seseorang yang bukan muslim datang kepada Rasulullah hendak menagih hutang. Sambil memegang kerah Rasul ia membentak “Mana hak saya hai Muhamad?”. “Nanti kalau ada kelapangan rejeki” jawab Rasul. “Kau kaum bani muththalib, memang kaum yang suka menunda-nunda hutang” timpalnya lagi. Menyaksikan kejadian ini, sahabat Umar yang kebetulan bersama Rasulullah sempat naik pitam. Saat beliau hendak menghajarnya, Rasulullah segera mencegah seraya berkata “Wahai Umar, dia dan saya lebih baik dari kamu tanpa yang seperti ini”.
Pembelajaran semacam itu, yang mampu merubah perangai sahabat Umar menjadi lebih bijak dan toleran. Pernah ketika beliau memasuki Bait el-Maqdis, kaum kristiani meminta beliau untuk menyempatkan solat di dalam gereja mereka. Secara bijak Saidina Umar berkata “Sebenarnya tidak ada masalah bagi saya untuk melakukan solat di tempat itu, cuman yang dikhawatirkan jika umat Islam setelahku akan mengatakan: “Disini lho, dahulu sahabat umar pernah melakukan Solat” kemudian mereka akan mennyerobot sebagian tempat kamu sekalian”.
Rahmat dan kasih sayang terhadap makhluk hidup terang saja tercermin dalam syari’at Islam. Sewaktu pelaksanaan ibadah haji yang sakral, para jamaah dilarang berburu ataupun sekedar menggilas seekor serangga dengan sengaja. Dalam etika penyembelihan hewan, disyaratkan memakai mata belati yang tajam. Sampai masalah upah buruh, “Berilah upah buruh sebelum kering peluhnya” demikian Nabi mengajari kasih sayang, toleransi dan bagaimana menghargai hak-hak orang lain. (untuk lebih lengkapnya kunjungi http://www.aziznawadi.co.nr )
November 30, 2008 at 7:12 am
no coment
Januari 8, 2009 at 3:44 am
materi apan ini aneh sekali ! tidak ilmiah, tidak ada dasarnya